Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat memicu trading halt hingga dua kali turut memberikan dampak terhadap pasar obligasi Indonesia, meski dampaknya dinilai terbatas.
“Sedikit (pengaruh ke pasar utang), tapi kayaknya tidak terlalu banyak,” ujar Purbaya saat ditemui di Wisma Danantara, Jumat (30/1/2026).
Sebagaimana diketahui, IHSG mengalami trading halt sebanyak dua kali pada Rabu, 28 Januari 2026, setelah dirilisnya laporan dari MSCI. Trading halt kembali terjadi pada hari berikutnya, meskipun menjelang penutupan perdagangan IHSG berhasil memangkas sebagian koreksinya.
Memasuki perdagangan pagi ini, Jumat (30/1/2026), IHSG menunjukkan penguatan yang cukup solid. Indeks dibuka menguat 1,06% ke level 8.319,15, menandakan adanya perbaikan sentimen di pasar saham domestik.
Sementara itu, di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan. Pada Kamis (29/1/2026), yield SBN 10 tahun naik ke 6,368%, dibandingkan 6,37% pada hari sebelumnya. Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan penurunan harga SBN, seiring aksi jual yang dilakukan oleh investor.
Meski mengakui adanya pengaruh ke pasar utang, Purbaya tetap optimistis bahwa minat investor terhadap Surat Berharga Negara akan kembali pulih, seiring dengan membaiknya pergerakan IHSG.
Menurutnya, sejumlah kebijakan yang telah dan akan ditempuh pemerintah diyakini mampu mengembalikan kepercayaan pelaku pasar dan masyarakat terhadap pasar modal nasional.
“Nggak apa-apa, nanti turun lagi. Mereka takut kan? Dengan kebijakan seperti ini, dengan respons pemerintah yang jelas dan berani, seharusnya mereka melihat bahwa kita sungguh-sungguh mengembalikan kepercayaan ke pasar modal kita,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa di tengah kondisi ekonomi yang terus membaik, investor tidak perlu terlalu khawatir terhadap dinamika jangka pendek yang terjadi di pasar.
“Dan di tengah ekonomi yang terus membaik, jadi nggak usah takut,” tutupnya.




Leave a Reply